Wamenag Dorong Mahasiswa PTKI jadi Agen Moderasi Beragama

wamenag-dorong-mahasiswa-ptki-jadi-agen-moderasi-beragama-1
Berita

Wamenag Dorong Mahasiswa PTKI jadi Agen Moderasi Beragama

Merdeka. com – Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi, mendorong mahasiswa di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menjadi distributor moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat.

“Anda semua harus bangga menjadi bagian dari PTKI yang selama ini menjadi tempat penyemaian terbaik Islam yang rahmatan lil alamin yang dipadu dengan ilmu-ilmu filsafat dan sosial humaniora, ” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta . Begitu dikutip dari Antara, Jumat (17/9).

Wamenag menyampaikan pesan itu zaman memberikan pembekalan Mahasiswa UIN Alauddin Makassar , Sulawesi Selatan, yang akan menjalani kalender Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dia mengambil hasil penelitian Pusat Belajar Agama dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di dalam 2018. Bahwa ancaman ekstremisme di kalangan kaum muda berusia 15-24 sangat merisaukan.

Penelitian sejenis dilakukan pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di 18 kota/ kabupaten di Nusantara berkenaan literatur keislaman generasi milenial.

Buatan penelitian itu menunjukkan generasi milenial sangat tertarik buat mengakses literatur keagamaan. Masalahnya adalah terletak pada opsi topik yang paling banyak diminati yakni jihad dan khilafah.

“Karenanya, jadikan Anda duta moderasi beragama yang menjadi katalisator untuk mendesiminasikan wawasan dan paham keislaman yang inklusif, toleran dan damai, ” katanya.

Menurut Wamenag, pengarusutamaan moderasi mematuhi setidaknya dilandasi oleh 3 hal yakni kehadiran agama untuk menjaga martabat pribadi dengan pesan utama rahmah (kasih sayang), lalu pengetahuan bahwa pemikiran keagamaan bersifat historis.

“Sementara realitas terus bergerak secara dinamis, sehingga kontekstualisasi adalah keniscayaan, tidak justru terjebak pada teks yang mengutarakan cara beragama yang ekslusif, ” katanya.

Terakhir, kata dia, yaitu tanggungan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dibanding siapa saja yang mau merongrong kehormatannya.

“Pemimpin tidak lahir secara sendirinya, tetapi harus diciptakan melalui forum-forum pendidikan serta pelatihan. Gunakan kesempatan Kuliah Kerja Nyata ini buat menggali berbagai ilmu pengetahuan, berinteraksi dan membangun komunitas secara apik serta mengasah keterampilan kepemimpinan yang diperlukan, ” jelas Zainut. [lia]

Back To Top