Telah Disita KPK, Terungkap Vila di Sukabumi Dibeli Pekerja Edhy Prabowo Senilai Rp3 M

sudah-disita-kpk-terungkap-vila-di-sukabumi-dibeli-staf-edhy-prabowo-senilai-rp3-m-1
Berita

Telah Disita KPK, Terungkap Vila di Sukabumi Dibeli Pekerja Edhy Prabowo Senilai Rp3 M

Merdeka. com – Pengadilan Daerah (PN) Jakarta Pusat melangsungkan sidang lanjutan atas terdakwa Mantan Menteri Kelautan serta Perikanan Edhy Prabowo dalam perkara dugaan korupsi izin ekspor benur lobster di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Di dalam sidang ini, Usep Kurniawan yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) dibanding Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditanya soal ihwal pembelian vila yang saat itu telah disita KPK

Vila seluas dua hektar di Desa Cijengkol, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat diketahui dimiliki Hj Makmun Saleh yang dibeli mencuaikan staf pribadi Edhy Prabowo, Amiril Mukminin, setelah ditawarkan Usep.

“Bapak tawarkan ke siapa? ” tanya jaksa saat wasit di PN Jakarta Sentral, Rabu (2/6).

“Awalnya, Saya tawarkan ke adiknya Pak Edhy, namanya Dedy Harianto. Sempat zaman itu saudara Dedy bilang juga kepada saya, kakanda coba saja tawarkan ke Pak Edhy. Saya chatting lewat WA tapi enggak direspons, ” jawab Usep

“Cuma ketika pas saya telpon lagi ke Dedy, disuruh jika hubungin Pak Amiril & itu saya tanya siapa? disampaikan, katanya orangnya Pak Edhy, ” tambah Usep.

Setelah Usep berkomunikasi via telepon dengan Amiril maka terjalinlah kesepakatan terkait pembelian vila itu. Namun dengan catatan adanya nego dari harga kausa sebesar Rp 4 miliar.

“Beliau (Amiril) sampaikan kepada saya coba bang dinego harga-harganya. Daripada situ saya ke Bungkus Makmun lagi untuk menego harga tersebut dan disepakati harga Rp3 miliar, ” kata Usep.

Usai terjadi kesepakatan kehormatan, Amiril pun mengirimkan uang sebesar Rp50 juta yang terbagi dalam dua pengiriman uang sebagai tanda maka pembelian vila sekitar kamar Juli 2020.

“Di situ Pak Hj Makmun minta DP kurang lebih sekitar 50juta. Amiril saat itu kalau tidak salah DP-nya pertama Rp45 juta lalu ditambah Rp5 juta. Jadi 50 juta, ” terangnya.

Kemudian, seminggu setelah DP dibayarkan Hj Makmun meminta agar proses pembelian dipercepat. Maka terjadilah pembayaran ke-2 oleh Dedy adiknya Edhy Prabowo dan Sugiarto orang utusan Amiril yang didampingi Usep.

“Waktu itu uang yang angkat adiknya Pak Edhy, (Dedy) dan pak Sugiarto, ” ujar Usep

“Sugiarto siapa? ” tanya jaksa.

“Waktu itu saya tidak ingat. Tapi setelah ditanya ke Dedy, katanya orangnya Bungkus Amiril. Pembayaran pertama sebesar Rp1, 450 miliar ditambah Rp50 juta (DP) siap total Rp 1, 5 miliar, ” jawabnya.

Setelah penyerahan kekayaan kedua, seminggu selanjutnya dikerjakan kembali pembayaran ketiga sekalian akad jual beli (AJB) yang diwakili Sugiarto sejumlah Rp1, 5 miliar. Jadi total uang yang telah diserahkan sebesar Rp3 miliar untuk pembelian vila.

“Saya minta ke Pak Amiril untuk menyaksikan pembelian tersebut. Tapi agak-agak karena tidak bisa oleh karena itu diwakilin lagi Pak Dedy dan Pak Sugiarto. Untuk akad jual beli, ” katanya.

“Untuk pajaknya? ” tanya jaksa lagi.

“Itu pajaknya 244 juta, dibayar (Amiril) setelah seminggu daripada penyerahan AJB, ” sahutnya.

Kendati serupa itu, Usep mengatakan jika brevet bangunan vila itu belum sempat dibalik nama & masih nama pemilik sebelumnya hajah Elly, istri lantaran Hj Makmun.

“Belum, karena waktu tersebut sudah langsung (disita) sejak pihak KPK. Untuk AJB-nya sudah, cuman sertifikat pulih namanya belum, ” tuturnya.

“Kapan Amiril dateng temui bapak? ” tanya jaksa.

“Setelah akad jual kulak, sekalian mau saya foto-foto juga katanya. Itulah hamba baru tatap muka (dengan Amiril), ” jawab Usep.

“Bapak tanya kok nama Sugiarto? ” tanya kembali Jaksa.

“Enggak, saya engga nanya-nanya kaya gitu. Pak Dedy Cuman ya bilangnya orangnya Amiril aja gitu, ” timpalnya.

Lebih lanjut terkait bayaran penjualan, Usep menjelaskan bila komisi yang didapatnya lantaran Hj Makmun sebesar Rp75 juta dari 2, 5 persen hasil penjualan dengan di mana komisi tersebut dibagi dua kepada Dedy, adik Edhy Prabowo.

“2, 5 komisi dari Pak Makmun ya 75 juta, tapi itu dipotong 14 juta lantaran yang jatah saya. Datang sekarang belum diganti (oleh Amiril). Dan dibagi perut (dengan Dedy), ” sebutnya.

Sebelumnya, Premi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengambil sebuah vila di Kampung Cijengkol, Cibadak, Sukabumi Jawa Barat. Penyitaan dilakukan di dalam hari Kamis (18/2) kira-kira pukul 18. 00 WIB.

Vila secara luas kurang lebih dua hektare tersebut diduga merupakan milik mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang dibeli menggunakan uang dari para eksportir dengan mendapatkan izin ekspor baka lobster atau benur pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Diduga vila tersebut milik EP (Edhy Prabowo) yang dibeli dengan uang yang terkumpul dari para eksportir yang mendapatkan izin pengiriman benih lobster di KKP, ” ujar Plt Juru Cakap KPK Ali Fikri di keterangannya, Kamis (18/2).

Namun demikian pada kesempatan waktu yang berbeda, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menengkari telah membeli sebuah vila di Sukabumi, Jawa Barat.

“Saya enggak tahu vila yang mana. Saya enggak tahu, bukan punya saya, ” perkataan Edhy usai menjalani penyeliaan di Gedung KPK, Senin (22/2).

Edhy menyatakan, siap membuktikan dirinya tak mengetahui atau membeli vila tersebut. Menurut Edhy, dirinya pernah ditawari suatu vila namun urung tempat beli lantaran harganya tidak sesuai.

“Ya silakan saja (buktikan). Seluruh kepemilikan itu atas tanda siapa dan sebagainya saya juga enggak tahu. Kami pernah ditawarkan memang untuk itu, tapi kan enggak saya tindak lanjuti karena harganya mahal, ” logat Edhy. [bal]

Back To Top