Sinergi Rumah Sakit dan Pemerintah Jadi Prioritas dalam Pengerjaan Lonjakan Kasus Covid

Berita

Sinergi Rumah Sakit dan Pemerintah Jadi Prioritas dalam Pengerjaan Lonjakan Kasus Covid

Merdeka. com – Pasca libur lebaran, sejumlah daerah mulai melaporkan kemajuan temuan kasus Covid-19. Situasi ini ditandai dengan naik drastisnya tingkat keterisian tempat tidur atau BOR (Bed Occupancy Rate) pada sejumlah vila sakit di sejumlah kawasan. Angka kenaikan temuan peristiwa Covid-19 ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada minggu- minggu berikutnya.

Berdasarkan pengalaman empiris di setiap libur lama sebelumnya, yaitu libur lama Natal dan Tahun Segar, libur panjang Idulfitri, & libur panjang lainnya, lazimnya kenaikan kasus Covid-19 itu akan mencapai puncaknya sekitar 5 sampai 7 minggu setelahnya.

dr. Lia G. Partakusuma, SpPK(K), MM, MARS selaku Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) menyampaikan, dari kemahiran yang telah terjadi sebelumnya bahwa semakin tinggi jumlah kasus positif Covid-19 tetap akan berpengaruh dengan semakin tinggi juga persentase anak obat yang akan dirawat dalam rumah sakit.

“Belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa rata-rata 20% daripada total pasien positif COVID-19 itu perlu dirawat pada rumah sakit, dan 5% diantaranya harus dirawat dalam ruangan isolasi, ” katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/6).

Daya tempat tidur di per rumah sakit memang berbeda-beda, tergantung dari jenis serta lokasi rumah sakit. Kurang provinsi memiliki jumlah rumah sakit dan kapasitas wadah tidur yang lebih tumbuh dari provinsi lainnya.

“Sebagai contoh DKI Jakarta , terjadi kenaikan BOR, namun jumlah tempat tidur di Jakarta cukup banyak. Kenaikan belum sampai 70%, jadi mungkin belum overload. Namun dasar di beberapa daerah lainnya, seperti Kudus dan Bangkalan, rumah sakit disana tidak besar kapasitasnya. Begitu berlaku lonjakan kasus, rumah rendah tidak lagi mampu menampung pasien, ” jelasnya

Lia mengatakan, seluruh rumah sakit anggota PERSI menerapkan anjuran Kementerian Kesehatan tubuh untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur bagi pasien Covid-19.

“Jika BOR-nya telah terisi lebih dari 80% dari peruntukan untuk Covid-19, maka kapasitas akan ditambah lagi menjadi 40%. Dan 25% dari wadah tidurnya harus menjadi ICU khusus ruang isolasi Covid-19. Saat ini memang datanya terus bergerak, setiap panti sakit harus mempelajari tersebut, dan harus bergerak cepat serta bekerja sama jika terjadi lonjakan kasus, ” ungkapnya.

Lantaran laporan rumah sakit para anggota PERSI untuk yang kapasitas tempat tidurnya tidak banyak memang pasien telah mulai membludak. Antrian pada IGD juga sudah mulai panjang, termasuk di Jakarta.

“Karena penderita harus di skrining terlebih dahulu, dilakukan tes Covid-19. Pada saat menunggu hasil tes, ini yang membuat antrian pasien menjadi lama. Hal ini sebenarnya tak kita inginkan. Kita maunya pasien cepat masuk, dan cepat juga keluar. Biar tidak berkerumun di Sendi Sakit, ” ujarnya.

Saat kapasitas panti sakit tidak lagi sampai, langkah rujukan akan diambil. “Tapi tidak semua anak obat bersedia dirujuk. Malah ada yang akhirnya menolak dirawat. Ini kan sebetulnya tak boleh, apalagi dalam suasana wabah seperti sekarang ini, ” terang Lia.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut, Lia menambahkan, sinergi antara rumah sakit & Pemerintah sangat dibutuhkan. Situasi di lapangan, setiap rumah sakit pasti memiliki bintik batas, dari sisi peraduan, obat-obatan, APD, dan tenaga kesehatan.

“PERSI telah mengeluarkan edaran agar anggota kami saling berkoordinasi satu sama lain di dalam mempersiapkan tempat tidur, SDM, logistik, obat-obatan, serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Semoga masyarakat bisa memahami bahwa kemampuan rumah sakit itu memiliki batas, sehingga tak lalai dalam menjalankan aturan kesehatan, ” imbaunya

Lia melihat masa ini komunikasi antara panti sakit dengan Pemerintah pada penanganan Covid-19 telah berjalan cukup baik.

“Data sudah mulai melekat dan diumumkan secara tetap oleh Satgas Covid-19. Kemenkes juga rutin melakukan briefing untuk menyampaikan update situasi terkini. Sehingga kami sejak PERSI dapat meningkatkan kesiagaan dan tahu bagaimana untuk bertindak. TNI dan POLRI juga sangat membantu di dalam pelaksanaan di lapangan. Semoga sinergi baik ini langsung terjaga dan dapat langsung kita tingkatkan bersama, ” ungkapnya.

Karakter aktif masyarakat memang betul dibutuhkan dalam usaha penanganan pandemi Covid- 19 itu. Tidak semua rumah lara dan semua daerah memiliki kapasitas tempat tidur yang cukup banyak untuk dialokasikan kepada pasien Covid-19.

“Masyarakat diharapkan supaya dapat tetap menjaga protokol kesehatan dan melaksanakan imbauan Pemerintah untuk vaksinasi. Sebab semakin banyak masyarakat yang positif Covid-19, maka keinginan rawat inap di rumah sakit juga akan semakin meningkat. Jika kapasitas sendi sakit penuh, akan membuat kepanikan. Rumah sakit serupa akan semakin sulit untuk membantu pasien, ” tutup Lia. [fik]

Back To Top