Semenjak Covid-19 Mewabah di Timika, Anak Taruna Papua Isolasi di Sekolah

Berita

Semenjak Covid-19 Mewabah di Timika, Anak Taruna Papua Isolasi di Sekolah

Merdeka. com semrawut Seluruh siswa, guru serta pembina di pondok Taruna Papua mengisolasi diri pada sekolah yang terletak di Kelurahan Wonosari Jaya Kabupaten Timika. Mereka tidak diizinkan keluar dari zona kompleks sekolah dan asrama semenjak Covid-19 menjangkiti wilayah Timika di dalam akhir Maret.

Eksekutif Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme & Kamoro (YPMAK) Vebian Magal pada Timika Kamis mengatakan kebijakan isolasi sekolah dan asrama Taruna Papua dilakukan semata-mata untuk menghindari transmisi wabah Covid-19 ke kompleks persekolahan yang seluruhnya menampung siswa sah Papua asal Suku Amungme, Kamoro dan beberapa suku Papua yang lain.

“Sejak awal kejadian Covid-19 masuk ke Timika, ana memang melakukan karantina wilayah istimewa di kompleks sekolah dan asrama Taruna Papua. Guru, siswa, pembimbing asrama, tukang masak dan pegawai lain tidak boleh keluar dibanding kompleks itu karena situasi di Timika sekarang ini sudah berlaku transmisi lokal, ” kata Vebian, Kamis (11/6).

Sejauh ini terdapat 712 siswa tiba tingkat SD hingga SMP yang bersekolah di Sekolah Asrama Taruna Papua. Sementara jumlah seluruh karyawan (termasuk guru, pembina asrama) yang mengelola sekolah tersebut sebanyak 154 orang.

Sekolah dan Asrama Taruna Papua dibangun sebab YPMAK (sebelumnya bernama LPMAK), lembaga yang mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia untuk pemberdayaan masyarakat lokal Suku Amungme serta Kamoro serta lima suku kekerabatan lain di Kabupaten Mimika.

Saat ini pengelolaan Madrasah dan Asrama Taruna Papua dipercayakan kepada Lembaga Pendidikan Lokon yang berpusat di Tomohon, Sulawesi Mengadukan.

“Mereka tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan sekolah. Pada saat liburan seperti sekarang ini anak-anak juga tidak diperbolehkan pulang kembali ke rumah orang tua mereka baik yang ada di Timika maupun yang ada di kampung-kampung pedalaman. Mereka tidak diperbolehkan kontak dengan orang luar, semua wajib tinggal di dalam asrama & sekolah, ” jelasnya.

Adapun guru-guru dan pembina kos diberikan pilihan.

Bila tidak menghendaki untuk tinggal dalam sekolah dan asrama atau mengambil tinggal di luar kompleks sekolah, maka mereka tidak diperkenankan untuk bertemu dengan para siswa dan rekan-rekan guru yang lain.

“Kalau mereka tidak bakal tinggal di dalam atau memilah tetap tinggal di luar, silahkan saja, tapi mereka tidak bisa masuk ke sekolah untuk tengah waktu. Gaji mereka tetap dibayarkan (gaji pokok), tetapi tunjangan dengan lain-lain mereka tidak terima, ” kata Vebian.

Hingga saat ini, katanya, ribuan peserta program beasiswa YPMAK yang berkecukupan di berbagai kota studi di luar Mimika terus dipantau kondisi kesehatannya dan belum ada masukan ada yang terpapar Covid-19.

Pekan lalu salah seorang peserta beasiswa YPMAK meninggal dunia di Semarang lantaran terserang aib lain bukan kasus Covid-19.

“Sampai sekarang anak-anak itu sehat-sehat saja. Sejak awal ana tegaskan bahwa biaya asrama, kontrakan rumah dan lain-lain tetap ditanggung penuh oleh YPMAK sekalipun saat ini mereka bersekolah atau belajar secara online. Kami tetap berkoordinasi dengan lembaga mitra untuk memeriksa dan mengawasi anak-anak peserta agenda beasiswa di berbagai kota belajar, ” ujar Vebian. Seperti diberitakan Antara. [rhm]

Back To Top