Satgas Covid-19: Ada 157 Klaster di Jawa Barat, Paling Banyak Pemukiman

Satgas Covid-19: Ada 157 Klaster di Jawa Barat, Paling Banyak Pemukiman
Berita

Satgas Covid-19: Ada 157 Klaster di Jawa Barat, Paling Banyak Pemukiman

Merdeka. com – Anggota Awak Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah mengungkapkan ada 157 klaster Covid-19 di Provinsi Jawa Barat yang memicu munculnya 476 kasus. Data ini bohlam 27 Juli 2020.

Dewi menyebut, 157 klaster ini tersebar di empat lokasi, yaitu pemukiman, fasilitas kesehatan, perkantoran serta rumah ibadah. Pemukiman menyumbang klaster cukup banyak yakni 111 dengan total kasus 208 orang.

“Paling banyak lagi-lagi kita melihat pemukiman rata-rata kalau di-contact tracing keluarganya jadi kena positif juga karena paparannya, durasinya, jaraknya pasti berdekatan, ” jelas Buah hati dalam Talk Show Telaah Pergeseran Pemetaan Zonasi Risiko Covid-19, Senin (10/8).

Setelah pemukiman ada klaster fasilitas kesehatan yang tercatat sebanyak 28 dengan total kasus 177 orang. Rinciannya, panti sakit 24 klaster dengan 156 kasus, puskesmas tiga klaster dengan 18 kasus serta bidan utama klaster dengan tiga kasus. Klaster fasilitas kesehatan ini umumnya menimpa dokter maupun perawat.

Berikutnya, klaster perkantoran sebanyak 11 dengan total kasus 77 orang. Rinciannya, 4 klaster dari kementerian dengan 5 kasus, 2 klaster dari kantor Pemprov Jabar dengan 67 kasus, satu klaster kepolisian dengan satu kasus 1, 2 klaster BUMN dan BUMD dengan 2 kasus serta satu klaster swasta dengan satu kasus.

Terakhir, rumah ibadah. Ada satu klaster rumah ibadah di Jawa Barat dengan total 14 kasus. Dewi menegaskan bahwa bahan klaster dianalisis berdasarkan domisili, tidak berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Data ini benar harus kita analisis berdasarkan domisili bukan berdasarkan NIK, ” cakap Dewi.

Dia menambahkan, Pemprov Jawa Barat telah menyiasati penanggulangan Covid-19 di berbagai bidang, seperti pelayanan kesehatan, sosial serta ekonomi serta teknologi informasi. Dalam samping itu,
masyarakat harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan tubuh.

“Pekerjaan kita masih banyak terutama, perubahan perilaku. Ini adalah tugas untuk kita semua, bagaimana seluruh masyarakat Indonesia setia, disiplin, menerapkan protokol kesehatan, pada mana pun berada, ” tutupnya. [eko]

Back To Top