PPNI: 325 Perawat di Nusantara Telah Meninggal karena Covid-19

Berita

PPNI: 325 Perawat di Nusantara Telah Meninggal karena Covid-19

Merdeka. com – Ketua Umum Gabungan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhillah mengungkapkan sebesar 325 anggotanya telah wafat dunia akibat Covid-19. Keterangan ini merupakan total akumulatif kasus kematian perawat selama lebih dari setahun pandemi Covid-19.

“Sudah 325 perawat meninggal. Mereka dinyatakan (terpapar) Covid-19, ” katanya dalam diskusi maya, Sabtu (26/6).

Harif mengatakan lonjakan kejadian Covid-19 yang sangat luhur dalam sepekan terakhir mendirikan rumah sakit rujukan Covid-19 nyaris penuh. Sementara itu, jumlah tenaga kesehatan & fasilitas kesehatan di panti sakit terbatas. Kondisi tersebut membuat perawat kewalahan & kelelahan.

“Kalau minggu ini teman-teman kami merasakan kelelahan fisik dan mental. Mental ini bukan karena tekanan luar tapi lihat pasien antre. Aparat kesehatan ini menjadi belas kasihan dan dibawa ke aliran mendalam, jadi beban moral, ” ujarnya.

Juru bicara Satuan Suruhan Penanganan Covid-19, Wiku Setia Bawono Adisasmito mengatakan kejadian positif Covid-19 meningkat kaya dalam empat pekan final. Bahkan, dalam sepekan terakhir, kasus Covid-19 nasional mengarungi peningkatan sebesar 42 upah.

Peningkatan peristiwa ini dikontribusikan oleh lima provinsi di Pulau Jawa. Lima provinsi tersebut yakni, DKI Jakarta naik sebesar 13. 022 kasus, Jawa Barat naik 6. 449 kasus, Jawa Timur terbang 1. 756 kasus & Daerah Istimewa Yogyakarta naik 1. 322 kasus.

“Kemudian Jawa Pusat yang naik sebesar satu. 012 kasus, ” jelasnya melalui keterangan pers.

Sejalan dengan kemajuan kasus positif, kematian Covid-19 juga meningkat tajam di dalam minggu ini. Ada lima provinsi yang menyumbang kejadian kematian Covid-19 terbanyak, empat di antaranya berada di Pulau Jawa.

Yaitu, DKI Jakarta terangkat sebesar 200 kasus, Jawa Tengah naik 96 urusan, Jawa Timur naik 79 kasus, Jawa Barat terbang 73 kasus dan Lampung naik 72 kasus.

“Hanya DIY yang angka kematiannya tidak menyusun tajam sehingga tidak merembes ke dalam lima gembung, ” ujarnya.

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Reni Rondonuwu mengungkap dua penyebab kasus Covid-19 meningkat tajam di empat pekan terakhir. Pertama, karena varian baru Covid-19 B16172 atau dikenal dengan nama Delta. Varian itu pertama kali ditemukan dalam India.

“Hal ini dipengaruhi yang baru lonjakan-lonjakan kasus secara eksponensial di daerah-daerah tertentu tersebut akibat daripada varian perdana. Varian yang kita kenal varian Delta dari India, ” jelasnya dalam pembahasan virtual, Rabu (23/6).

Penyebab kedua tingkat kepatuhan masyarakat terhadap adat kesehatan rendah. Menurut Maxi, sebetulnya masyarakat bisa damai dari varian baru Covid-19 jika mematuhi protokol kesehatan.

“Mau virus apa pun kalau aturan kesehatan jalan bagus, orang masih setia menggunakan masker, menjaga jarak, jauhi kelompok, menekan mobilitas seharusnya bisa dicegah, ” ujarnya.

“Tapi ternyata protokol kesehatan mulai kendor, tersedia varian baru. Di situ lah kasusnya meningkatnya secara tajam, ” sambung tempat. [bal]

Back To Top