Penderita Meninggal di Aceh 60 Upah Lebih Disebabkan Penyakit Penyerta

Penderita Meninggal di Aceh 60 Upah Lebih Disebabkan Penyakit Penyerta
Berita

Penderita Meninggal di Aceh 60 Upah Lebih Disebabkan Penyakit Penyerta

Merdeka. com – Wakil Direktur Sendi Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Endang Mutiawati mengatakan, pasien Covid-19 dengan meninggal dunia di Aceh 60 persen lebih disebabkan karena adanya penyakit penyerta (komorbid).

Berdasarkan data per tanggal 14 September pekan lalu terdapat 91 pasien Covid-19 yang meninggal karena komorbid. Hingga Selasa (23/9) kemarin angka kematian karena virus corona tercatat mencapai 142 orang. Berarti hanya 51 orang yang wafat karena murni terjangkit Covid-19.

“Sebagian besar pasien Covid-19 Aceh yang meninggal dunia itu disebabkan adanya penyakit lainnya. Nah, Covid ini bisa memperparah keburukan yang dialami pasien sebelumnya, ” kata Endang di Banda Aceh, Rabu (23/9).

Komorbiditas dan komorbid artinya penyakit penyerta, sebuah istilah dalam dunia kedokteran yang menggambarkan kondisi bahwa tersedia penyakit lain yang dialami selain dari penyakit utamanya. Kata Endang, beberapa penyakit penyerta yang sering menyebabkan kematian pada pasien Covid-19, antara lain diabetes, hipertensi dan gagal ginjal.

“Penyakit penyerta memperburuk perjalanan klinis Covid-19, apalagi jika faktor komorbid itu tidak terkontrol dengan baik, ” kata Endang.

Jika dilihat dari sisi usia penderita meninggal karena komorbid dan diperparah dengan paparan Covid-19 telah berusia lanjut. Sebanyak 69 pasien dengan meninggal dunia bahkan berumur pada atas 50 tahun. Sementara besar orang yang meninggal masih berusia dalam rentang belasan tahun.

“Ledakan pasien komorbid dengan meninggal dunia dan tercatat jadi pasien Covid terjadi pada Agustus dan September. Di Agustus ada 47 kasus dan pada September hingga tanggal 14 tercatat 33 kasus, ” kata Endang.

Pasien terbanyak berasal daripada Banda Aceh yaitu 33 karakter dan Aceh Besar 22 orang. Sementara Pidie Jaya, Sabang serta Aceh Tamiang menjadi daerah dengan kasus terendah yaitu 1 anak obat.

Pemerintah pusat tunggal berencana untuk membuat klasifikasi pemberitahuan kasus kematian pasien Covid-19. Famili itu terkait kematian karena Covid-19 atau kematian karena penyakit penyerta (komorbid).

Kata Endang, hal ini seperti disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Kesehatan bagian Ekonomi Kesehatan, M. Subuh. Ia mengatakan perlu ada intervensi perkara definisi operasional kematian pasien Covid-19.

“Penurunan angka kematian harus kita intervensi dengan memproduksi definisi operasional dengan benar, meninggal karena Covid-19 atau karena adanya penyakit penyerta sesuai dengan panduan dari WHO, dan juga sokongan BPJS Kesehatan dalam pengajuan permintaan biaya kematian pasien disertai Covid-19, ” kata Endang.

Endang menyebutkan, klasifikasi untuk pendataan pasien meninggal karena murni sebab Covid-19 atau oleh komorbidnya, kudu dilakukan dengan hati-hati dan mendekati fakta yang ada.

Apalagi Badan Kesehatan Dunia ataupun WHO telah memberikan pedoman keluarga data meninggal covid-19 dalam perut kelompok yaitu kematian dengan Covid-19 yang disertai komorbid atau death cause due Covid-19. l, dan kematian karena Covid-19 atau death with Covid-19.

“Jika pedoman itu dipakai, maka lalu pasien yang meninggal karena suci terjangkit Covid-19 di Aceh bakal berkurang drastis, ” sebut Endang.

Meski demikian Endang menegaskan bahwa seluruh petugas kesehatan tubuh di Aceh telah bekerja semaksimal mungkin dalam melakukan langkah penyembuhan bagi masyarakat, baik yang asli terpapar Covid, maupun masyarakat dengan terpapar Covid namun punya penyakit penyerta.

“Karena itu, kami berharap kepada seluruh bagian masyarakat untuk memberi dukungan secara cara melakukan langkah-langkah pencegahan seolah-olah yang dianjurkan pemerintah, ” kata pendahuluan Endang. [gil]

Back To Top