LHKP PP Muhammadiyah Sebut Kemunculan Buzzer Efek Samping dari Proses Demokratisasi

lhkp-pp-muhammadiyah-sebut-kemunculan-buzzer-efek-samping-dari-proses-demokratisasi-1
Berita

LHKP PP Muhammadiyah Sebut Kemunculan Buzzer Efek Samping dari Proses Demokratisasi

Merdeka. com kepala Institusi Hikmah dan Kebijakan Jemaah Pimpinan Pusat (LHKP PP) Muhammadiyah berpandangan kemunculan buzzer merupakan efek samping dari proses demokratisasi di Indonesia. Hal itu disampaikan Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kecendekiaan Publik Pimpinan Pusat (LHKP PP) Muhammadiyah, Abdul Rohim Ghazali.

“Buzzer sebenarnya merupakan salah kepala efek samping dari proses demokratisasi yang kita kerjakan karena memberikan kebebasan berekspresi, ” kata Abdul Rohim ketika membuka seminar bertajuk ‘Fenomena Buzzer dan Akun Bot di tengah Metode Demokratisasi Indonesia’ yang disiarkan secara langsung di terusan YouTube LHKP PP Muhammadiyah. Demikian dikutip dari Antara, Kamis (30/9).

Apalagi, tutur Abdul Rohim, sejak amandemen UUD 1945 yang memungkinkan rakyat untuk memilih presiden secara tepat, maka para pendengung (buzzer) biasanya secara sukarela menyelamatkan aktor idolanya. Seperti pejabat atau oposisi ketika menebus kritik dari orang-orang dengan berbeda pandangan dengan itu.

“Fenomena buzzer menjadi bumbu dalam cara politik yang berada di pasar bebas, ” ucap dia.

Namun, fenomena buzzer menjadi lebih memprihatinkan ketika akun-akun secara nama samaran mulai menebar kecaman dan fitnah. Apalagi tujuannya hanya untuk merusak nama lawan politik secara cara yang tidak segar.

Efek tepi dari perilaku tersebut adalah kemunculan berita bohong atau berita salah di pusat masyarakat. Selanjutnya, berita bongak tersebut dapat memecah masyarakat Indonesia dan memicu permusuhan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

“Akun-akun dengan nama samaran tersebut sangat berbahaya. Ini memberi kesempatan kepada setiap karakter untuk menyampaikan kritik serta kecaman secara tidak bertanggung jawab, ” ucap dia.

Padahal, menurut Abdul Rohim, kebebasan berekspresi sesungguhnya merupakan hal dengan sangat positif. Kebebasan itu memberikan kesempatan kepada di setiap orang untuk menyampaikan pertimbangan, saran, hingga kecaman kepada pemerintah tanpa memandang latar belakang dari pemilik pendirian.

“Kebebasan berekspresi sangat baik ketika diarahkan untuk kebaikan dan memperbaiki keadaan yang dipandang tidak produktif bagi demokrasi kita, ” ucap Abdul Rohim. [lia]

Back To Top