KAMI Surati Jokowi, Minta Tindak PKI Gaya Baru hingga Menayangkan Hidup G30S/PKI

KAMI Surati Jokowi, Minta Tindak PKI Gaya Baru hingga Menayangkan Hidup G30S/PKI
Berita

KAMI Surati Jokowi, Minta Tindak PKI Gaya Baru hingga Menayangkan Hidup G30S/PKI

Merdeka. com – Federasi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) membuat surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo ( Jokowi ). Surat tersebut berkaitan perihal kelam PKI yang terjadi pada bulan September.

Tulisan bernomor 014/PRES-KAMI/B/IX/2020 ditandatangani oleh Presidium KAMI, Gatot Nurmantyo, Din Syamsuddin dan Rochmat Wahab yang tertanggal pada 22 September 2020.

Menurut KAMI, banyak kaum Indonesia pada setiap Bulan September menyandang suasana kebatinan penuh keprihatinan dan trauma akan peristiwa-peristiwa akal kancil Partai Komunis Indonesia/PKI yang berlaku pada bulan ini.

KAMI juga menilai Anak-cucu Suku Komunis sudah menyelusup ke dalam lingkaran-lingkaran legislatif maupun eksekutif. KAMI meyakini bahwa adanya RUU mengenai Haluan Ideologi Pancasila/RUU HIP, & usulan baru RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila adalah upaya menjatuhkan, meremehkan, menyelewengkan, dan menyalahgunakan Pancasila.

Berikut isi tulisan KAMI untuk Jokowi:

Kepada Yth.
Bapak Ir. Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Di
Jakarta

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan Nama Tuhan Yang Maha Esa.

KAMI mendoakan semoga Saudara Presiden di keadaan sehat walfiat dan sanggup mengemban amanat rakyat dengan sebaik-baiknya.

Saudara Presiden yang mulia,
KAMI dan banyak rakyat Indonesia pada setiap Bulan September menyandang suasana kebatinan lengkap keprihatinan dan trauma akan peristiwa-peristiwa makar Partai Komunis Indonesia/PKI dengan terjadi pada bulan ini. Sedang mengiang di ingatan generasi kerabat, betapa kekejaman PKI pada Perlawanan Madiun 18 September 1948. Kala itu Kaum Komunis membunuh para-para ulama, santri, dan rakyat dengan tidak berdosa, hanya karena itu tidak bersetuju dengan ideologi komunisme.

Tujuh belas tahun kemudian, tepatnya pada 30 September 1965, PKI kembali melakukan makar dan kekejaman, yakni mereka membinasakan tujuh Jenderal TNI Angkatan Darat dengan biadab (membunuh dan memasukkan jenazah mereka ke dalam sumur dalam Lubang Buaya). Makar dan perlawanan itu dilakukan PKI, baik pendahuluan maupun epilognya, dengan tindak kebengisan dan kekejaman pembunuhan terhadap anak buah, khususnya para ulama dan santri.

Peristiwa makar serta kekejaman PKI pada 1948 & 1965 menoreh sejarah kelam makin hitam dalam sejarah kebangsaan serta kenegaraan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Adalah sahih bahwa PKI dan Kaum Komunis tidak bersetuju, dan ingin tetap merongrong Negara Pancasila, baik secara upaya menggantikan Pancasila, maupun dengan memperjuangkan penafsiran dan pemerasan kepada Pancasila, sehingga Pancasila kehilangan esensinya.

Saudara Presiden dengan mulia,
Beberapa waktu terakhir ini, KAMI dan banyak rakyat Indonesia merasa prihatin dan membangkitkan trauma dengan adanya gejala & gelagat kebangkitan neo komunisme & PKI Gaya Baru. Hal serupa itu tidak lagi merupakan mitos ataupun fiksi, tapi sudah menjadi masukan. Anak-cucu Kaum Komunis ternyata telah menyelusup ke dalam lingkaran-lingkaran legislatif maupun eksekutif.

Beberapa mereka sudah berani memutarbalikkan kenangan, dengan menyatakan bahwa PKI ialah korban, dan kalangan non PKI khususnya umat Islam sebagai pelaku pelanggaran HAM berat terhadap orang-orang PKI. Mereka menutup mata kepada fakta sejarah, bahwa Kaum Komunislah yang lebih dahulu membantai para ulama dan santri, menyerang pelatihan Pelajar Islam Indonesia (PII), Set Mahasiswa Islam (HMI), GP Ansor, dan aksi-aksi sepihak PKI kepada para petani. Mereka juga mau mengingkari fakta sejarah bahwa Kaum Komunislah yg membantai para Jenderal TNI.

Bahkan, Belahan Presiden, sebagian dari anak-cucu PKI itu sudah berani secara demonstratif meneriakkan kebanggaan menjadi Anak PKI. KAMI dan banyak rakyat Indonesia meyakini bahwa upaya adu kambing sesama warga masyarakat (khususnya sesama Umat Islam dan antar pengikut beragama), penyandungan (bullying) hingga pembunuhan karakter (character assasination) terhadap lawan politik merupakan cara-cara Kaum Komunis, yang juga pernah dilakukan pada masa lampau menjelang makar atau pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965.

Secara istimewa, Saudara Presiden, KAMI dan rakyat Indonesia sangat trauma, karenanya beriktikad bahwa adanya RUU tentang Haluan Ideologi Pancasila/RUU HIP, dan proposal baru RUU Badan Pembinaan Haluan Pancasila/RUU BPIP) adalah upaya menjatuhkan, meremehkan, menyelewengkan, dan menyalahgunakan Pancasila.

Saudara Presiden dengan mulia,
Berdasarkan semua tersebut, maka kami yang bergabung dalam Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia/KAMI, & meyakini banyak rakyat Indonesia yang mendukung, dengan ini menuntut hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Presiden Joko Widodo dan tadbir yang dipimpinnya untuk bertindak benar-benar terhadap gejala, gelagat, dan bukti kebangkitan neo- komunisme dan/atau PKI Gaya Baru yang sudah jelas dan tidak perlu lagi ditanya, di mana?

Kedua, Presiden Joko Widodo dengan kewenangannya sebagai Presiden meminta DPR untuk tidak melanjutkan pembahasan tentang RUU Haluan Ideologi Pancasila dan RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, makin agar menarik RUU HIP sebab Prolegnas dan tidak memproses RUU tentang BPIP.

Ke-3, Presiden Joko Widodo sesuai kewenangan yang dimilikinya menyerukan lembaga-lembaga Negeri dan lembaga-lembaga penyiaran publik, khususnya TVRI, untuk menayangkan Film Pengkhianatan G 30-S/PKI dan/atau film sebentuk agar rakyat Indonesia memahami belang hitam dalam sejarah kebangsaan Nusantara. Begitu pula, agar pelajaran memori yang menjelaskan noda hitam tersebut diajarkan kepada segenap peserta didik, tidak dikurangi apalagi dihilangkan. Ingat pesan Bung Karno, “Jasmerah, jangan sekali-kali lupakan sejarah. ”

Saudara Presiden yang fadil, KAMI berkeyakinan bahwa tuntutan-tuntutan dalam atas adalah konstitusional dan rasional. Jawaban Presiden terhadap tuntutan-tuntutan itu akan menunjukkan derajat kenegarawanan, janji kepada Pancasila, dan sikap perlawanan terhadap komunisme atau PKI di berbagai bentuk dan penjelmaannya.

Demikianlah Surat Terbuka ini disampaikan, sebagai bentuk keterbukaan dan pelurusan sejarah kebangsaan. Kepada Jejaring KAMI di daerah-daerah dan manca negara agar mengawalnya.

Dalam rangka memperingati kebiadaban PKI pada tanggal 30 September 1965, KAMI menyerukan kepada segenap anak buah Indonesia untuk mengibarkan bendera separuh tiang pada tanggal 30 September 2020, dan dalam rangka merayakan Hari Kesaktian Pancasila, agar di tanggal 1 Oktober 2020 menimbulkan bendera setiang penuh.
Lepas!!! [gil]

Back To Top