Dinkes DKI Khawatir Warga Terlena Hasil Negatif Rapid Test Antigen

Berita

Dinkes DKI Khawatir Warga Terlena Hasil Negatif Rapid Test Antigen

Merdeka. com – Kepala Jawatan Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengaku khawatir dengan sifat warga usai mendapat hasil negatif pada rapid test antigen. Hasil itu dikhawatirkan akan dianggap sebagai parameter utama terbebas dari Covid-19, sehingga masyarakat menurunkan cara pencegahan penularan.

“Kami khawatir warga kita begitu dites rapid antigen negatif terus mereka bisa tenang. Ini yang kecil membuat kita khawatir, ” ujar Widya dalam pembahasan virtual yang dikutip pada Sabtu (17/4).

Widya menegaskan, hasil tes utama dan menjadi rujukan seseorang dinyatakan positif ataupun negatif dari Covid-19 merupakan tes menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).

Di Jakarta, perkataan Widya, Dinas Kesehatan melakukan testing dengan dua program yaitu PCR dan rapid antigen. Adanya tes bersandarkan antigen berdasarkan kebijakan pemerintah pusat yang membolehkan penggunaannya untuk screening awal.

Meski demikian, Widya menegaskan jumlah kapasitas testing PCR lebih banyak dibandingkan rapid antigen. Dalam utama pekan terakhir, testing PCR di Jakarta mencapai enam. 988 orang, sedangkan rapid antigen berjumlah sekitar 3. 000 orang.

Widya juga mengingatkan, menurunnya kualitas protokol kesehatan dalam masyarakat dapat berdampak dengan penambahan jumlah kasus. Makin selama 2 pekan belakang terjadi tren peningkatan kejadian harian di Jakarta.

“Harian kita telah mulai peningkatan 200, 200, khawatir nanti bergerak terus, ” ungkapnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, tren tertinggi kasus rajin di DKI terjadi di dalam Januari-Februari di angka 25. 000 lebih pasien isolasi di rumah sakit atau tempat-tempat isolasi yang disediakan pemerintah. Memasuki Maret, gaya kasus aktif mulai menghunjam drastis di angka enam. 988 kasus.

Merujuk data tersebut, Widya mengingatkan agar penerapan adat kesehatan tetap diterapkan dengan ketat. Sebab, pengabaian upaya pencegahan penularan Covid-19 mampu berdampak kembali meningkatkan kasus.

Dia memasukkan, tingginya jumlah kasus aktif juga disebabkan kapasitas testing DKI. Daerah ini melangsungkan 68. 000 lebih tes dengan metode polymerase chain reaction (PCR) setiap minggu. Angka itu melebihi kaki WHO.

“Angka ini melebihi angka WHO, tetapi 68. 000 sebetulnya memang menurun meskipun sedang tinggi menurut standar WHO, tetapi untuk standar DKI sendiri kita biasa pernah di posisi 90 seperseribu, ” ucapnya. [yan]

Back To Top